media komunikasi dan informasi

Tampilkan postingan dengan label akper. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akper. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Januari 2012

ASUHAN KEPERAWATAN TONSILITIS

Pengertian
Tonsilitis adalah terdapatnya peradangan umum dan pembengkakan dari jaringan tonsil dengan pengumpulan lekosit, sel-sel epitel mati dan bakteri patogen dalam kripta (Adam Boeis, 1994: 330).


Tonsilektomi adalah suatu tindakan invasif yang dilakukan untuk mengambil tonsil dengan atau tanpa adenoid (Adam Boeis, 1994: 337).




Etiologi
  1. Streptokokus hemolitikus grup A.
  2. Pneumokokus.
  3. Stafilokokus.
  4. Haemofilus influezae.
Pathofisiologi
  1. Terjadinya peradangan pada daerah tonsila akibat virus.
  2. Mengakibatkan terjadinya pembentukan eksudat.
  3. Terjadi selulitis tonsila dan daerah sekitarnya.
  4. Pembentukan abses peritonsilar.
  5. Nekrosis jaringan.
Gejala-gejala
  1. Sakit tenggorokan dan disfagia.
  2. Penderita tidak mau makan atau minum.
  3. Malaise.
  4. Demam.
  5. Nafas bau.
  6. Otitis media merupakan salah satu faktor pencetusnya.

Penatalaksanaan
  1. Tirah baring.
  2. Pemberian cairan adekuat dan diet ringan.
  3. Pemberian obat-obat (analgesik dan antibiotik).
  4. Apabila tidak ada kemajuan maka alternatif tindakan yang dapat di lakukan adalah pembedahan.
Indikasi tindakan pembedahan
Indikasi absolut
  1. Timbulnya kor pulmonale akibat adanya obstruksi jalan nafas yang kronis.
  2. Hipertrofi tonsil atau adenoid dengan sindroma apnea pada waktu tidur.
  3. Hipertrofi yang berlebihan yang mengakibatkan disfagia dan penurunan berat badan sebagai penyertanya.
  4. Biopsi eksisi yang di curigai sebagai keganasan (limfoma).
  5. Abses peritonsilaris berulang atau abses yang meluas pada jaringan sekitarnya.
Indikasi relatif
Seluruh indikasi lain untuk tindakan tonsilektomi di anggap sebagai indikasi relatif.
Indikasi lain yang paling dapat di terima adalah
  1. Serangan tonsilitis yang berulang.
  2. Hiperplasia tonsil dengan gangguan fungsional (disfagia).
  3. Hiperplasia dan obstruksi yang menetap selama 6 bulan.
  4. Tidak memberikan respons terhadap penatalaksanaan dan terapi.
Kontraindikasi
  1. Demam yang tidak di ketahui penyebabnya.
  2. Asma.
  3. Infeksi sistemik atau kronis.
  4. Sinusitis.
Persiapan operasi yang mungkin di lakukan
Pemeriksaan laboratorium (Hb, lekosit, waktu perdarahan).Berikan penjelasan kepada klien tindakan dan perawatan setelah operasi.Puasa 6-8 jam sebelum operasi.Berikan antibiotik sebagai propilaksis.Berikan premedikasi ½ jam sebelum operasi.
Pengkajian
  1. Riwayat kesehatan yang bergubungan dengan faktor pendukung terjadinya tonsilitis serta bio-psiko-sosio-spiritual.
  2. Peredaran darah : Palpitasi, sakit kepala pada saat melakukan perubahan posisi, penurunan tekanan darah, bradikardi, tubuh teraba dingin, ekstrimitas tampak pucat.
  3. Eliminasi : Perubahan pola eliminasi (inkontinensia uri/alvi), distensi abdomen, menghilangnya bising usus.
  4. Aktivitas/istirahat : Terdapat penurunan aktivitas karena kelemahan tubuh, kehilangan sensasi atau parese/plegia, mudah lelah, sulit dalam beristirahat karena kejang otot atau spasme dan nyeri. Menurunnya tingkat kesadaran, menurunnya kekuatan otot, kelemahan tubuh secara umum.
  5. Nutrisi dan cairan : Anoreksia, mual muntah akibat peningkatan TIK (tekanan intra kranial), gangguan menelan, dan kehilangan sensasi pada lidah.
  6. Persarafan : Pusing/syncope, nyeri kepala, menurunnya luas lapang pandang/pandangan kabur, menurunnya sensasi raba terutama pada daerah muka dan ekstrimitas. Status mental koma, kelmahan pada ekstrimitas, paralise otot wajah, afasia, pupil dilatasi, penurunan pendengaran.
  7. Kenyamanan : Ekspresi wajah yang tegang, nyeri kepala, gelisah.
  8. Pernafasan : Nafas yang memendek, ketidakmampuan dalam bernafas, apnea, timbulnya periode apnea dalam pola nafas.
  9. Keamanan Fluktuasi dari suhu dalam ruangan.
  10. Psikologis : Denial, tidak percaya, kesedihan yang mendalam, takut, cemas.
Masalah dan rencana tindakan keperawatan
Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan kerusakan jaringan atau trauma pada pusat pernafasan.
Tujuan:
Pasien menunjukkan kemampuan dalam melakukan pernafasan secara adekuat dengan memperlihatkan hasil blood gas yang stabil dan baik serta hilangnya tanda-tanda distress pernafasan.
Rencana tindakan:
  1. Bebaskan jalan nafas secara paten (pertahankan posisi kepala dalam keadaan sejajar dengan tulang belakang/sesuai indikasi).
  2. Lakukan suction jika di perlukan.
  3. Kaji fungsi sistem pernafasan.
  4. Kaji kemampuan pasien dalam melakukan batuk/usaha mengeluarkan sekret.
  5. Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
  6. Observasi tanda-tanda adanya ditress pernafasan (kulit menjadi pucat/cyanosis).Kolaborasi dengan terapist dalam pemberian fisoterapi.
Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan neuromuskuler pada ekstrimitas.
Tujuan:
Pasien menunjukan adanya peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas fisik.
Rencana tindakan:
  1. Kaji kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas.
  2. Ajarkan pada pasien tentang rentang gerak yang masih dapat di lakukan.
  3. Lakukan latihan secara aktif dan pasif pada akstrimitas untuk mencegah kekakuan otot dan atrofi.
  4. Anjurkan pasien untuk mengambil posisi yang lurus.
  5. Bantu pasien secara bertahap dalam melakukan ROM sesuai kemampuan.
  6. Kolaborasi dalam pemberian antispamodic atau relaxant jika di perlukan.Observasi kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas.
Penurunan perfusi jaringan otak berhubungan dengan edema cerebri, perdarahan pada otak.
Tujuan:
Pasien menunjukan adanya peningkatan kesadaran, kognitif dan fungsi sensori.
Rencana tindakan:
  1. Kaji status neurologis dan catat perubahannya.
  2. Berikan pasien posisi terlentang.
  3. Kolaborasi dalam pemberian O2.
  4. Observasi tingkat kesadaran, tanda vital.
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya trauma secara fisik.
Tujuan:
Pasien mengungkapkan nyeri sudah berkurang dan menunjukkan suatu keadaan yang relaks dan tenang.
Rencana tindakan:
  1. Kaji tingkat atau derajat nyeri yang di rasakan oleh pasien dengan menggunakan skala.
  2. Bantu pasien dalam mencarai faktor presipitasi dari nyeri yang di rasakan.
  3. Ciptakan lingkungan yang tenang.
  4. Ajarkan dan demontrasikan ke pasien tentang beberapa cara dalam melakukan tehnik relaksasi.Kolaborasi dalam pemberian sesuai indikasi.
Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan efek dari kerusakan pada area bicara pada himisfer otak.
Tujuan:
Pasien mampu melakukan komunikasi untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dan menunjukan peningkatan kemampuan dalam melakukan komunikasi.
Rencana tindakan:
  1. Lakukan komunkasi dengan pasien (sering tetapi pendek serta mudah di pahami).
  2. Ciptakan suatu suasana penerimaan terhadap perubahan yang dialami pasien.
  3. Ajarkan pada pasien untuk memperbaiki tehnik berkomunikasi.
  4. Pergunakan tehnik komunikasi non verbal.
  5. Kolaborasi dalam pelaksanaan terapi wicara.Observasi kemampuan pasien dalam melakukan komunikasi baik verbal maupun non verbal.
Perubahan konsep diri berhubungan dengan perubahan persepsi.
Tujuan:
Pasien menunjukan peningkatan kemampuan dalam menerima keadaan nya.
Rencana tindakan:
  1. Kaji pasien terhadap derajat perubahan konsep diri.
  2. Dampingi dan dengarkan keluhan pasien.
  3. Beri dukungan terhadap tindakan yang bersifat positif.
  4. Kaji kemampuan pasien dalam beristirahat (tidur).
  5. Observasi kemampuan pasien dalam menerima keadaanya.
Perubahan pola eliminasi defekasi dan uri berhubungan dengan an inervasi pada bladder dan rectum.
Tujuan:
Pasien menunjukkan kemampuan dalam melakukan eliminasi (defekasi/uri) secara normal sesuai dengan kebiasaan pasien.
Rencana tindakan:
  1. Kaji pola eliminasi pasien sebelum dan saat di lakukan pengkajian.
  2. Auskultasi bising usus dan distensi abdomen.
  3. Pertahankan porsi minum 2-3 liter perhari (sesuai indikasi).
  4. Kaji/palpasi distensi dari bladder.
  5. Lakukan bladder training sesuai indikasi.
  6. Bantu/lakukan pengeluaran feces secara manual.
  7. Kolaborasi dalam(pemberian gliserin, pemasangan dower katheter dan pemberian obat sesuai indikasi).
Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan sirkulasi perifer yang tidak adekuat, adanya edema, imobilisasi.
Tujuan:
Tidak terjadi kerusakan integritas kulit (dikubitus).
Rencana tindakan:
  1. Kaji keadaan kulit dan lokasi yang biasanya terjadi luka atau lecet.
  2. Anjurkan pada keluarga agar menjaga keadan kulit tetap kering dan bersih.
  3. Ganti posisi tiap 2 jam sekali.
  4. Rapikan alas tidur agar tidak terlipat.
Resiko terjadinya ketidakpatuhan terhadap penatalaksanaan yang berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan:
Pasien menunjukan kemauan untuk melakukan kegiatan penatalaksanaan.
Rencana tindakan:
  1. Identifikasi faktor yang dapat menimbulkan ketidak patuhan terhadap penatalaksanaan.
  2. Diskusikan dengan pasien cara-cara untuk mengatasi faktor penghambat tersebut.
  3. Jelaskan pada pasien akibat dari ketidak patuhan terhadap penatalaksanaan.
  4. Libatkan keluarga dalam penyuluhan.
  5. Anjurkan pada pasien untuk melakukan kontrol secara teratur.
Source:
  • Boeis, Adam, 1994, Buku Ajar Penyakit THT, Jakarta: EGC.
  • Junadi, Purnawan, 1982, Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
  • Price, Sylvia Anderson, 1985, Pathofisiologi Konsep klinik proses-proses penyakit, Jakarta: EGC.

ASUHAN KEPERAWATAN HIDROCEPHALUS

  1. Pengertian.
Hidrocephalus adalah sebuah kondisi yang disebabkan oleh produksi yang tidak seimbang dan penyerapan dari cairan cerebrospinal (CSF) di dalam sistem Ventricular. Ketika  produksi CSF lebih besar dari penyerapan, cairan cerebrospinal mengakumulasi di dalam sistem Ventricular.
II.  Penyebab.
Penyebab dari hidrosefalus adalah :
  • Kelaianan bawahan( Konginetal )
  • Infeksi
  • Neoplasma
  • Perdarahan.
  1. Macam-macam hidrosefalus
  • Hidrosefalus Non Komunikan ( Tipe tak berhubungan ):
Terjadinya obstruksi pada aliran cairan serebro spinal.
  • Hidrosefalus Komunikan( Tipe berhubungan ) :
Kegagalan absobsi cairan serebro spinal.
  1. Patofisiologi.
  • Penyumbatan aliran CCS dalam sisstem ventrikel dan tempat absobsi dalam rongga subaracnoid      dilatasi ruangan CSS diatasnya ( Foramen Monroi, foramen luschka dan magendie, sisterna magna dan sisterna basalis) pembentukan CSS yang berlebihan  dan kecepatan absorsi yang normal Hidrosefalus.

  1. Pengkajian.
A.  Anamnesa.
  1. Insiden  : kelaliran denga hidrosefalus terjadi pada 5,8 bayi dai   10.000 kelahiran hidup
  • Hidrosefalus dengan spinabifida terdapat kira-kira 3-4 bayi dari 1000 kelahiran hidup
  • Type hidrosefalus obstruksi terdapat  99 % kasus pada anak-anak.
  1. Riwayat kesehatan masa lalu:
  • Terutama adanya riwayat luka / trauma dikepala atau infeksi di sebral
  1. Riwayat kahamilan dan persalinan :
  • Kelahiran yang prematur
  • Neonatal meningitis
  • Perdarahan subaracnoid
  • Infeksi intra uterin
  • Perdarahan perinatal,trauma/cidera persalinan.
  1. Pemeriksaan Fisik
  • Biasanya adanya myelomeningocele, penguran lingkar kepala (Occipitifrontal)
  • Pada hidrosefalus didapatkan :
v Tanda – tanda awal   :
  • Mata juling
  • Sakit kepala
  • Lekas marah
  • Lesu
  • Menangis jika digendong dan diam bila berbaring
  • Mual dan muntah yang proyektil
  • Melihat kembar
  • Ataksia
  • Perkembangan yang berlangsung lambat
  • Pupil oedema
  • Respon pupil terhadap cahaya lambat dan tidak sama
  • Biasanya diikuti : perubahan tingkat kesadaran, opistotonus dan spastik pada ekstremitas bawah
  • Kesulitan dalam pemberian makanan dan menelan
  • Gangguan cardio pulmoner
v    Tanda-tanda selanjutnya :
  • Nyeri kepala kepala diikuti dengan muntah-muntah
  • Pupil oedema
  • Strabismus
  • Peningkatan tekanan darah
  • Heart lambat
  • Gangguan respirasi
  • Kejang
  • Letargi
  • Muntah
  • Tanda-tanda ekstrapiramidal/ ataksia
  • Lekas marah
  • Lesu
  • Apatis
  • Kebingungan
  • Sering kali inkoheren
  • Kebutaaan
C.      Pemeriksaan Penunjang.
  • Skan temograsfi komputer ( CT-Scan) mempertegas adanya dilatasi ventrikel dan membantui dalam memgidentifikasi kemungkinan penyebabnya( Neoplasma, kista,malformasi konginetal atau perdarahan intra kranial )
  • Fungsi ventrikel  kadang digunakan untiuk menukur tekanan intra kranial menghilangkan cairan serebrospinal untuk kultur (aturan ditentukan untuk pengulangan pengaliran).
  • EEG : untuk mengetahui kelainan genetik atau metabolik
  • Transluminasi : Untuk mengetahui apakah adanya kelainan dalam kepala
  • MRI  : ( Magnetik resonance imaging ) : memberi informasi mengenai stuktur otak tanpa kena radiasi
  1. Penatalaksanaan Medis.
Pasang parau untuk mengeluarkjan kelebihan CSS dari ventrikel lateral kebagian ekstrakranial ( biasanya peritonium untuk bayi dan anak-anak atau atrium pada remaja ) dimana hal tersebut dapat direabsorbsi
Diagnosa keperawatan, Intervensi dan rasional.
No. Diagnosa Keperawatan Tujuan /kriteria hasil Intervensi Rasional
1. 2.
3.
Potensial terhadap perubahan integritas kulit kepala  b/d ketidakmampuan bayi dalam mengerakan kepala akibata peningkatan ukuran dan berat kepala Perubahan fungsi keluarga  b/d situasi krisis ( anak dalam catat fisik )
Resiko tinggi terjadi cidera b/d peningkatan tekanan intra kranial
Tidak terjadi gangguan integritas kulit dengan kriteria : Kulit utuh, bersih dan kering.
Keluarga menerima keadaan anaknya, mampu menjelaskan keadaan penderita dengan kriteria :
- Keluarga berpartisipasi dalam merawat anaknya dan secra verbal keluarga dapat mengerti tentang penyakit anaknya.
Tidak terjadi peningkatan TIK dengan kriteria :
-   Tanda vital norma, pola nafas efektif, reflek cahaya positif,tidak tejadi gangguan kesadaran, tidak muntah dan tidak kejang.
  • Kaji kulit kepala setiap 2 jam dan monitor terhadap area yang tertekan
  • Ubah posisi tiap 2 jam dapat dipertimbangkan untuk mengubaha kepala tiap jam.
  • Hindari tidak adanya linen pada temap[t tidur
  • Baringkan kepala pada bantal karet busa atau menggunakan tempat tidur air jika mungkin.
  • Berikan nutrisi sesuai kebutuhan.
  • Jelaskan secara rinci tentang kondisi penderita, prosedur, terapi dan prognosanya.
  • Ulangi penjelasan tersebut  bila perlu dengan contoh bila keluarga belum mengerti
  • Klarifikasi kesalahan asumsi  dan misskonsepsi
  • Berikan kesempatan keluarga untuk bertanya.
  • Observasi ketat tanda-tanda peningkatan TIK
  • Tentukan skala coma
  • Hindari pemasangan infus dikepala
  • Hindari sedasi
  • Jangan sekali-kali memijat atau memopa shunt untuk memeriksa fungsinya
  • Ajari keluarga mengenai tanda-tanda peningkatan TIK
  • Untuk memantau keadaan integumen kulit secara dini.
  • Untuk meningkatkan sirkulasi kulit.
  • Linen dapat menyerap keringat sehingga kulit tetap kering
  • Untuk mengurangi tekanan yang menyebabkan stess mekanik.
  • Jaringan akan mudah nekrosis bila kalori dan protein kurang.
  • Pengetahuan dapat mempersiapkan keluarga dalam merawat penderita.
  • Keluarga dapat menerima seluruh informasi agar tidak menimbulkan salah persepsi
  • Untuk menghindari salah persepsi
  • Keluarga dapat mengemukakan perasaannya.
  • Untuk mengetahui secara dini peningkatan TIK
  • Penurunan keasadaran menandakakan adanya peningkatan TIK
  • Mencegah terjadi infeksi sistemik
  • Karena tingkat kesadaran merupakan indikator peningkatan TIK
  • Dapat mengakibatan sumbatan sehingga terjdi nyeri kepala karena peningkatan CSS atau obtruksi pada ujung kateter diperitonial
  • Keluarga dapat berpatisipasi dalam perawatan anak dengan hidrosefalus.
Daftar Pustaka
Whaley  and Wong  ( 1995 ), Nursing Care of infants and children, St.Louis : Mosby year Book
Doenges M.E, ( 1999), Rencana Asuhan keperawtan : pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien, EGC, Jakarta
Lynda Juall Carpenito, ( 2000) Buku Saku : Diagnosa Keperawatan, Ed.8, EGC, Jakarta
Soetomenggolo,T.S . Imael .S , ( 1999 ), Neorologi  anak, Ikatan Dokter Indonesia, Jakarta
Halminto,MP, ( 1995 ), Dasar- dasar keperawatan maternitas, Ed. VI, EGC, Jakarta




Kamis, 01 Desember 2011

manfaat parfum untuk pengobatan


Parfum sudah menjadi bagian yang tidak pernah lepas dalam berbagai aktivitas yang dilakukan wanita, terutama wanita karir. Bagi mereka Parfum mampu meningkatkan rasa percaya diri saat bekerja dan memberikan efek aromaterapi yang sangat membantu menenangkan pikiran. Karena itu wanita lebih berhati-hati saat memilih parfum yang mereka inginkan.
Setiap aroma wangi memiliki efek yang berbeda terhadap tubuh, namun banyak yang belum mengerti mengenai hal itu. Selama ini orang cenderung memilih wewangian berdasarkan insting yang mereka sukai dan pengalaman setelah mencoba beberapa jenis parfum. Supaya anda tidak asal membeli parfum murah sebaiknya ketahui dan pelajari beberapa manfaat parfum dalam pengobatan sebagai aromaterapi :
  1. Citronella untuk mengurangi ketegangan, meredakan hidung tersumbat, mengatasi insomnia, dengkur dan migrain.
  2. Eucalyptus (kayu putih) berguna melegakan pernafasan, meringankan masalah hidung sensitif, bronchitis, asma, batuk, pilek, demam dan flu.
  3. Lavender agar mudahkan tidur, meredakan kegelisahan, mengatasi depresi, mengurangi perasaan ketegangan.
  4. Teh hijau (green tea) untuk memperbaiki sistem peredaran darah, membantu mengeluarkan dahak dan membersihkan paru-paru. Juga memperlambat proses penuaan.
  5. Sandalwood (cendana) bermanfaat untuk menghilangkan rasa cemas dan aromanya sangat bermanfaat untuk meditasi.
  6. Rose (bunga mawar) untuk menciptakan suasana romantis dan penuh gairah, memperbaiki metabolisme dan sistem peredaran darah, menyeimbangkan hormon, meringankan kepekaan kulit sensitif dan alergi.
  7. Ylang-ylang (bunga kenanga) berguna meringankan tekanan darah tinggi, mengeluarkan sebum pada kulit. PeppermintAroma yang menyegarkan, membangkitkan suasana, mengurangi sakit perut, ketegangan, dan menyembuhkan sakit kepala.
  8. Chammomile untuk menenangkan dan mengakhiri stres serta menyenyakkan tidur.
  9. Dandellion untuk mengobati sakit sendi, masalah ginjal dan kantung kemih, hepatitis, penyaringan darah dan mengatasi masalah pencernaan. Juga efektif menyembuhkan sengatan lebah.
  10. Thyme membantu pencegahan flu, demam, detoksifikasi racun dan mencegah infeksi, meredekan hidung tersumbat dan alergi sinus.
  11. Lotus (bunga teratai) meningkatkan vitalitas, dan konsentrasi, mengurangi panas dalam, meningkatkan fungsi limpa dan ginjal.
  12. Patchouli meningkatkan gairah dan semangat, meningkatkan sensualitas, memberi efek menenangkan, dan membuat tidur lebih nyenyak.
  13. Basil untuk mengurangi sakit kepala dan migrain serta meningkatkan konsentrasi.
  14. Green apple (apel hijau) dapat menyembuhkan mabuk dan diare, menguatkan sistem pencernaan, menjernihkan pikiran, meringankan gejala panas dalam.
  15. Black Pepper (merica hitam) memiliki aroma yang tajam namun berkhasiat mengurangi rasa sakit pada otot.
  16. Lemon dapat mengurangi stres dan anti depresi, meningkatkan mood dan merelakskan pikiran serta memberi perasaan segar.
  17. Vanilla dengan aroma lembut dan hangat mampu menenangkan pikiran.
  18. Jasmine (bunga melati) berfungsi sebagai aphrosidiac sensual untuk merangsang dan menciptakan suasana romantis.
  19. Strawberry dapat meningkatkan selera makan, mengurangi penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan kanker.
Dengan mengetahui fungsi masing-masing aromaterapi diatas, anda bisa memilih aroma parfum original yang anda suka dan sesuai dengan kondisi kesehatan tubuh anda. Jika memang dirasa perlu untuk memadukan beberapa aroma, anda bisa membeli sejumlah parfum, namun untuk beberapa tipe aroma biasanya tergolong cukup mahal. Jadi sebaiknya anda cari toko parfum original murah di internet. Sudah banyak yang menyediakan berbagai macam minyak essensial, bahkan lilin untuk membakar dan cawan.